Header Alirsyad
Print
Email
User Rating:  / 3
PoorBest 

AD / ART Perhimpunan Al-Irsyad

Written by Super User
Category: Uncategorised
Hits: 9186

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

إن الـحمد لله نحمده، ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيـئات أعمـالـنا، من يـهده الله فـلا مضل له، ومن يضل فـلا هادي له، ونشهد أن لا إلٰه إلا الله وحده لا شريك له، ونشهد أن محمدا عبده ورسوله:

 }يَـأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّـقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَـمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (102[

أما بعد، فـإن أصدق الـحديث كـتاب الله، وأحسن الـهدي هدي مـحمد r، وشر الأمور مـحدثاتها، وكل مـحدثة بدعة، وكـل بدعة ضلالـة، وكـل ضلالـة فـي الـنار. وبعد:

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sebagai pengikut Nabi Muhammad.

Sebagai organisasi kader, Perhimpunan Al-Irsyad insya Allah akan menjalankan amanat muktamar dengan sebaik-baiknya.

Buku kecil dihadapan pembaca ini, adalah hasil muktamar yang diputuskan pada muktamar I Perhimpunan Al-Irsyad tanggal 30 Maret 2009 di Pondok Gede Jakarta.

Dakwah mengajak orang kepada Islam yang benar sesuai ajaran dan tuntutan Rosululloh adalah ruh dari perhimpunan Al-Irsyad.

Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salafus Sholeh adalah pondasi dari seluruh kegiatan mulia kita.

Mengingat, menghargai dan meneruskan per-juangan Asy-Syaikh Ahmad Asy-Surkati yang tertuang dalam mabadi’ Al-Irsyad adalah cita-cita kita bersama.

Ikut serta mencerdaskan masyarakat, meningkatkan kesalehan dan kesejahteraan sosial bersama peme- rintah dan elemen bangsa yang lain adalah gerak langkah kita.

Oleh karena itu, dengan jelasnya landasan AD ART, mari kita fastabiqul khoirot untuk melaksanakan program dan kegiatan dakwah Islam melalui perhim punan Al-Irsyad yang kita cintai ini.

Semoga buku ini dapat menjadi pegangan bagi warga Perhimpunan Al-Irsyad dalam mengem- bangkan organisasi ini menuju organisasi kader yang terdepan, mendakwahkan tauhid dan menjauhi bid’ah sesuai dengan ajakan mabadi’ Al-Irsyad. Amin.

وصلى الله علىٰ نبينا الـمصطفى وعلىٰ آلـه وصحبه ومن اهتدى بـهدى الرسول الـمقتدى.

Ketua Umum,

 

Ust. Yusuf Utsman Baisa, Lc

 

 


 

 

MUKADDIMAH

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 }كُنْـتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَـأْمُرُوْنَ بِالْـمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْـمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ (110)[

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran ayat 110)

Islam menempatkan ummatnya dalam kedu- dukan mulia, seperti As-Saabiquunal awwaluun, yang pertama-tama masuk Islam seperti termaktub dalam surat At-Taubah ayat 100:

}والسَّابِقُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ مِنَ الْـمُهَجِرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِـإِحْسَنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَّدَ لَـهُمْ جَنَّتٍ تَـجْرِى تَحْتَهَا اْلأَنْـهَرُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا، ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ (100)[ 

“Orang-orang terdahulu, yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalam- nya. Itulah kemenangan yang besar”.

Dengan rahmat Allah serta mengharap ridha-Nya, atas dasar (kesamaan) Aqidah Islamiyyah yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafus Sholeh, maka dengan ini kami menyatakan berdirinya Perhimpu- nan Al-Irsyad sebagai pewaris dan penerus semangat juang Syaikh Ahmad As-Surkati selaku pendiri Al-Irsyad pada 6 September 1914 atau bertepatan dengan 15 Syawal 1332 H dan telah didaftarkan di Departemen Dalam Negeri dengan mendapat SKT Nomor: 99/D.III.2/XI/ 2007 tanggal 14 Nopember 2007, untuk kemurnian tauhid, ibadah dan amal Islamiyyah dengan Anggaran Dasar sebagai berikut:

 

ANGGARAN DASAR

PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

 

BABI
NAMA, KEDUDUKAN,

ASAS, SIFAT, DAN WAKTU

 

Pasal 1
Nama, Kedudukan, Asas, Sifat dan Waktu

1.  Organisasi ini bernama Perhimpunan Al-Irsyad berkedudukan di Jakarta, selanjutnya disebut Perhimpunan.

2.  Perhimpunan ini berasas Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman As-Salafus Sholeh.

3.  Perhimpunan ini berfalsafah Pancasila dan berdasarkan konstitusi Undang-undang Dasar 1945 (seribu sembilan ratus empat puluh lima).

4.  Perhimpunan ini bersifat independen, tidak terikat atau berafiliasi dengan organisasi manapun.

5.  Perhimpunan ini didirikan untuk jangka waktu yang lamanya tidak ditentukan.

 


 

 

 

 

BABII
TUJUAN DAN USAHA

 

Pasal 2
Tujuan

 

Tujuan Perhimpunan ini adalah terwujudnya insan beriman dan bertakwa kepada Allah melaksana-kan amar ma’ruf–nahyi munkar berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafus Sholeh demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Pasal 3
Usaha

 

Untuk mencapai tujuan Perhimpunan dilakukan usaha-usaha sebagai berikut:

1.  Mendirikan dan mengembangkan lembaga pendi- dikan, dakwah, sosial, dan ekonomi.

2.  Mengeluarkan fatwa dan tahkim.

3.  Mendirikan dan mengembangkan media informasi dan komunikasi massa.

4.  Menjalin kerjasama dengan organisasi lain.

 


 

 

BABIII
SUSUNAN PERHIMPUNAN,

PIMPINAN DAN KEANGGOTAAN

 

Pasal 4
Susunan Perhimpunan

Susunan Perhimpunan terdiri dari:

1.  Tingkat Pusat Terdiri dari:

a.  Majelis Syuro

b.  Majelis Istisyariyah

c.  Dewan Pimpinan Pusat (DPP)

 

2.  Tingkat Wilayah terdiri dari:

a.  Mursyid Istisyariyah

b.  Dewan Pimpinan Wilayah

 

3.  Tingkat Cabang terdiri dari:

a.  Lajnah Istisyariyah

b.  Dewan Pimpinan Cabang

 

Pasal 5
Majelis Syuro dan Majelis Istisyariyah

 

1.  Majelis Syuro dibentuk oleh Muktamar dan hanya ada pada tingkat pusat

2.  Majelis Istisyariyah dibentuk oleh Dewan Pim- pinan Pusat (DPP)

 

Pasal 6
Mursyid dan Lajnah Istisyariyah

 

1.  Mursyid Istisyariyah dibentuk oleh Dewan Pimpi- nan Wilayah (DPW).

2.  Lajnah Istisyariyah dibentuk oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC).

 

Pasal 7
Dewan Pengurus

 

Dewan Pengurus Perhimpunan terdiri atas:

 

1.  Dewan Pimpinan Pusat disingkat DPP di tingkat nasional.

2.  Dewan Pimpinan Wilayah disingkat DPW di ting- kat provinsi.

3.  Dewan Pimpinan Cabang disingkat DPC, di tingkat kota/kabupaten.

 

 

Pasal 8
DPP, DPW DAN DPC

1.  DPP dipimpin oleh seorang Ketua Umum yang dipilih dalam Muktamar dan memegang kekua- saan eksekutif tertinggi.

2.  DPW dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih dalam Musyawarah Wilayah dan merupakan perwakilan DPP di tingkat provinsi.

3.  DPC dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih dalam Musyawarah Cabang dan memegang kekuasaan eksekutif tertinggi di tingkat Cabang.

 

 

Pasal 9
Badan Otonom dan Badan Khusus

 

1.  Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk dan mengesahkan pendirian Badan Otonom.

2.  Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Badan Khusus yang bertanggung jawab pada Dewan Pimpinan Pusat.

 

Pasal 10
Keanggotaan

 

1.  Anggota Perhimpunan terdiri dari:

a. Anggota Biasa

b. Anggota Kehormatan

2.  Anggota Biasa Perhimpunan adalah warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam yang sudah dewasa.

3.  Anggota Kehormatan Perhimpunan adalah mereka yang sangat berjasa kepada Perhim- punan dan ditetapkan di dalam rapat paripurna Dewan Pimpinan Pusat.

 

Pasal 11
Keanggotaan Berakhir

 

Keanggotaan dalam Perhimpunan berakhir karena:

1.  Permintaan sendiri

2.  Meninggal dunia

3.  Diberhentikan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

 

Pasal 12
Masa Bakti Pimpinan

 

1.  Masa bakti DPP 5 (lima) tahun.

2.  Masa bakti DPW dan DPC masing-masing 4 (empat) tahun.

3.  Ketua Umum DPP, Ketua DPW dan Ketua DPC dapat dijabat berturut-turut maksimum selama 2 (dua) kali masa bakti.

 

Pasal 13
Pimpinan Berhalangan

 

1.  Dalam hal Ketua Umum DPP, Ketua DPW, Ketua DPC berhalangan sementara, Pimpinan Harian DPP, Pimpinan Harian DPW, Pimpinan Harian DPC dapat menunjuk Ketua Umum / Ketua sementara.

2.  Dalam hal Ketua Umum DPP, Ketua DPW, Ketua DPC berhalangan tetap, penggantiannya ditetap- kan melalui rapat pleno sampai berakhirnya masa bakti yang digantikan.

 


 

 

BABIV
PERANGKAT DEWAN PIMPINAN

 PERHIMPUNAN

 

Pasal 14
Majelis, Mursyid dan Lajnah

 

1.  Majelis merupakan perangkat Perhimpunan pada Dewan Pimpinan Pusat, dengan tugas melak- sanakan program kerja Dewan Pimpinan Pusat sesuai bidang kerjanya.

2.  Mursyid merupakan perangkat Perhimpunan pada Dewan Pimpinan Wilayah, dengan tugas melaksa- nakan program kerja Dewan Pimpinan Wilayah sesuai bidang kerjanya.

3.  Lajnah merupakan perangkat Perhimpunan pada Dewan Pimpinan Cabang, dengan tugas melaksa- nakan program kerja Dewan Pimpinan Cabang sesuai bidang kerjanya.

4.  Mursyid dan Lajnah dapat dibentuk di tingkat wilayah dan cabang, yang sudah ada majelisnya di tingkat pusat.

5.  Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang yang tidak memungkinkan, dibolehkan untuk sementara tidak membentuk Mursyid dan Lajnah.

 

 

Pasal 15
Majelis

 

Majelis merupakan perangkat Perhimpunan di tingkat pusat dengan tugas melaksanakan program kerja DPP dan terdiri atas:

1.  Majelis Pendidikan dan Pengajaran.

2.  Majelis Dakwah dan Fatwa.

3.  Majelis Organisasi dan Kaderisasi.

4.  Majelis Wakaf dan Yayasan.

5.  Majelis Sosial dan Ekonomi.

6.  Majelis Pemuda dan Pelajar.

7.  Majelis Wanita dan Putri.

8.  Majelis Hubungan Luar Negeri.

 

 

Pasal 16
Majelis Isytisyariyah

Majelis Isytisyariyah dibentuk oleh DPP, berfungsi sebagai penasehat, pemberi fatwa atas hal-hal yang terjadi di dalam maupun di luar Perhimpunan.

 

Pasal 17
Yayasan, Badan Wakaf dan

Badan Hukum lainnya

 

Yayasan, Badan Wakaf dan Badan Hukum lainnya dapat dibentuk oleh Perhimpunan untuk mendukung terlaksananya program-program Perhimpunan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

 


 

BABV
KEWAJIBAN DAN HAK

 

Pasal 18
Kewajiban Anggota

 

Setiap anggota berkewajiban mentaati Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Keputusan-Keputusan Perhimpunan serta ikut serta dalam menyukseskan program perhimpunan.

 

Pasal 19
Hak Anggota

 

Setiap anggota mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta memperoleh informasi dan pembinaan dari Perhimpunan.

 

 


 

BABVI
MUSYAWARAH DAN KEKUASAAN

TERTINGGI

 

Pasal 20
Musyawarah dan Rapat

 

1.  Musyawarah dalam Perhimpunan terdiri dari:

a.  Muktamar.

b.  Muktamar Luar Biasa.

c.  Musyawarah Kerja (Muker).

d.  Musyawarah Wilayah (Muwil).

e.  Musyawarah Cabang (Mucab).

 

2.  Rapat dalam Perhimpunan terdiri dari:

a.  Rapat Dewan Pimpinan

b.  Rapat Koordinasi

Pasal 21
Kekuasaan Tertinggi

 

1.  Muktamar dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun dan merupakan lembaga pengambilan keputusan tertinggi dalam Perhimpunan Al-Irsyad.

2.  Muktamar Luar Biasa dapat dilaksanakan sewaktu-waktu di luar jadual Muktamar atas permintaan cabang-cabang/wilayah berdasarkan keputusan Majelis Syuro.

3.  Sifat Luar Biasa dari Muktamar Luar Biasa tersebut hanyalah pada waktu pelaksanaannya yang menyimpang dari waktu yang lazim, sedangkan materi dan dasar hukumnya sama dengan Muktamar biasa, serta keputusan-kepu-tusannya adalah merupakan keputusan tertinggi dalam perhimpunan.

 


 

BABVII
QUORUM DAN KEPUTUSAN

 

Pasal 22
Qorum

 

Setiap permusyawaratan dianggap sah jika dihadiri oleh separuh lebih yang berhak hadir

 

Pasal 23
Keputusan

 

Setiap keputusan musyawarah atau rapat diambil secara mufakat dan apabila tidak tercapai kese- pakatan, maka keputusan diambil melalui suara terbanyak (voting).

 

BABVIII
KEUANGAN DAN KEKAYAAN

PERHIMPUNAN

 

Pasal 24
Keuangan

 

Keuangan diperoleh dari:

1.  Uang pangkal dan iuran anggota.

2.  Sumbangan, donasi dan lain-lainnya.

 

Pasal 25
Kekayaan

 

Perhimpunan dapat memiliki benda-benda bergerak dan benda-benda tidak bergerak yang dibeli secara sah maupun diperoleh dari hibah/ wasiat dari anggota, penderma, pemerintah atau masyarakat yang bersimpati.

 

 

BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN PERHIMPUNAN

 

Pasal 26
Perubahan Anggaran Dasar

 

Anggaran Dasar Perhimpunan hanya dapat diubah melalui Muktamar.

 

Pasal 27
Pembubaran Perhimpunan

 

1.  Pembubaran Perhimpunan dilakukan oleh Mukta-mar yang khusus diselenggarakan untuk itu, atas permintaan sedikitnya 2/3 (dua pertiga) jumlah Cabang.

2.  Keputusan Pembubaran Perhimpunan oleh Muk-tamar dapat dilakukan apabila disetujui lebih dari 2/3 Muktamirin.

3.  Setelah Perhimpunan dibubarkan, seluruh keka- yaan diserahkan kepada lembaga Islam yang seiring dengan tujuan Perhimpunan Al-Irsyad dan ditunjuk oleh Muktamar sebagaimana dimaksud ayat 1 pasal ini.

 

 

BAB X
ANGGARAN RUMAH TANGGA,

PERATURAN PERALIHAN DAN PENUTUP

 

Pasal 28
Anggaran Rumah Tangga

 

1.  Anggaran Rumah Tangga merupakan aturan pelaksanaan dan penjelasan rinci dari Anggaran Dasar.

2.  Anggaran Rumah Tangga tidak boleh berten- tangan dengan Anggaran Dasar.

3.  Anggaran Rumah Tangga ditetapkan dengan Surat Keputusan DPP.

Pasal 29
Peraturan Peralihan

 

1.  Dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal ditetapkannya Anggaran Dasar ini seluruh ketentuan dan kebijakan perhimpunan harus sudah menyesuaikan diri dengan Anggaran Dasar ini.

2.  Segala sesuatu yang belum diatur atau tidak terurai secara jelas dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

3.  Seluruh anggota dan jajaran Perhimpunan dianggap telah memahami seluruh isi Anggaran Dasar ini.

 

Pasal 30
Penutup

 

Anggaran Dasar ini berlaku sejak ditetapkan pada tanggal 3 Rabi’ Tsani 1430 H yang bertepatan dengan 30 Maret 2009 M (tiga puluh bulan Maret tahun dua ribu sembilan)

 

 

                                      Jakarta, 03 Rabi’ Tsani 1430 H

                                                    30     Maret      2009 M

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

ANGGARAN RUMAH TANGGA

PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

 

BABI
SUSUNANPERHIMPUNAN

 

Pasal 1
Majelis Syuro

 

1.    Anggota Majelis Syuro dipilih dan ditetapkan oleh Muktamar dengan musyawarah dan mufakat.

2.    Anggota Majelis Syuro adalah mereka yang dikenal sebagai tokoh Al-Irsyad, memahami agama dengan benar dan baik, memiliki integritas yang tinggi serta berakhlaq yang mulia.

3.    Anggota Majelis Syuro paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 15 (lima belas) orang.

4.    Susunan Majelis Syuro terdiri dari seorang ketua, seorang wakil ketua, seorang sekretaris dan anggota.

5.    Susunan Majelis Syuro ditetapkan oleh rapat pertama anggota Majelis Syuro yang dipilih oleh Muktamar.

6.    Masa jabatan Majelis Syuro adalah 5 (lima) tahun.

7.    Majelis Syuro bertanggungjawab kepada Muktamar.

8.    Rapat Majelis Syuro dilaksanakan minimal sekali dalam 1 (satu) tahun.

9.    Rapat Majelis Syuro bersama Dewan Pimpinan Pusat dilaksanakan minimal sekali dalam 1 (satu) tahun.

10.  Majelis Syuro berwenang dan berhak:

a.  Menyusun kelengkapan Dewan Pimpinan Pusat bersama Ketua Umum terpilih.

b.  Menetapkan dan melantik Dewan Pimpinan Pusat.

c.  Memberi saran dan pertimbangan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

d.  Mengawasi dan memberi peringatan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

e.  Menetapkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, apabila ketua umum meninggal dunia atau berhalangan tetap.

f.   Memberhentikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, apabila nyata-nyata ketua umum tidak dapat menjalankan fungsinya atau melanggar AD/ART, dan mengangkat Ketua Umum sementara sampai terpilihnya Ketua Umum dalam Muktamar dan/atau Muktamar Luar Biasa.

 

 

Pasal 2
Dewan Pimpinan Pusat

 

1.  Dewan Pimpinan Pusat merupakan pemegang kekuasaan eksekutif yang memimpin Perhim punan secara kolektif pada tingkat nasional.

2.  Kelengkapan Dewan Pimpinan Pusat disusun dan diangkat oleh Majelis Syuro untuk masa bakti selama 5 (lima) tahun.

3.  Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari Pimpinan Harian dan Pimpinan Paripurna.

4.  Pimpinan Harian terdiri dari:

a.  Ketua Umum

b.  Wakil Ketua Umum

c.  Ketua-ketua Majelis

d.  Sekretaris Jenderal

e.  Wakil Sekretaris Jenderal

f.   Bendahara

g.  Wakil Bendahara

5.  Pimpinan Paripurna terdiri dari:

a.  Pimpinan Harian

b.  Para wakil ketua Majelis

c.  Para sekretaris Majelis

6.  Dewan Pimpinan Pusat mempunyai wewenang, tugas dan kewajiban:

a.  Melaksanakan semua amar Muktamar.

b.  Mematuhi dan melaksanakan petunjuk Majelis Syuro.

c.  Melaksanakan seluruh keputusan dan/atau rekomendasi Majelis Syuro.

d.  Merencanakan, mengorganisasikan, mengarah kan dan mengendalikan kegiatan Perhimpunan secara nasional.

e.  Secara berkala setiap tahun memberikan laporan kegiatan kepada Majelis Syuro.

f.   Mempertanggungjawabkan secara keseluruhan kegiatan Perhimpunan pada akhir masa baktinya di hadapan Muktamar berikutnya.

g.  Kegiatan Dewan Pimpinan Pusat sehari-hari dilaksanakan oleh Pimpinan Harian dan ber- tanggung jawab kepada Pimpinan Paripurna.

h. Kewajiban operasional yang dilaksanakan oleh Majelis, dipertanggungjawabkan kepada Pimpi- nan Paripurna.

i.  Dewan Pimpinan Pusat yang lama harus melaksanakan serah terima seluruh fasilitas dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan Perhimpunan kepada Dewan Pimpinan Pusat yang baru.

j.   Dewan Pimpinan Pusat sesuai kewenangannya dapat membekukan atau mengubah status Dewan Pimpinan Wilayah dan/atau Dewan Pimpinan Cabang yang tidak dapat melaksa nakan fungsinya, melakukan penyimpangan terhadap ketentuan organisasi dan/atau menolak melaksanakan kewajiban yang telah digariskan.

k.  Setelah diberi peringatan tertulis sebanyak dua kali, Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang yang tidak dapat melak- sanakan fungsinya, melakukan penyimpangan terhadap ketentuan organisasi dan/atau menolak melaksanakan kewajiban yang telah digariskan dapat dibekukan oleh Dewan Pimpinan Pusat.

l.   Apabila Dewan Pimpinan Pusat membekukan Dewan Pimpinan Wilayah dan /atau Dewan Pimpinan Cabang, maka selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak pembekuan tersebut Dewan Pimpinan Pusat harus menunjuk 3 (tiga) orang mandataris yang bertugas menyelenggarakan Musyawarah Wilayah dan /atau Musya warah Cabang selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak diangkatnya mandataris, guna membentuk Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang yang baru.

m.   Dengan pertimbangan-pertimbangan khusus Dewan Pimpinan Pusat dapat memperpanjang masa jabatan Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang.

7.  Selain ketua umum, kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat yang tidak berjalan dengan baik atau tidak lengkap lagi, sewaktu-waktu dapat disusun kembali (reshuffle) berdasarkan kepu-tusan rapat Paripurna Dewan Pimpinan Pusat.

 

Pasal 3
Majelis, Mursyid, dan Lajnah Istisyariyyah

 

1.  Majelis Istisyariyyah dibentuk oleh Dewan Pim-pinan Pusat yang berfungsi memberikan saran dan pertimbangan-pertimbangan kepada Dewan Pimpinan Pusat baik diminta maupun tidak.

2.  Mursyid dan Lajnah Istisyariyyah dibentuk oleh Formatur hasil Musyawarah Wilayah dan Musya-warah Cabang, berfungsi sebagai penasehat Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang baik diminta ataupun tidak.

 

 

Pasal 4
Dewan Pimpinan Wilayah

 

1.  Dewan Pimpinan Wilayah merupakan pemegang kekuasaan Perhimpunan dalam wilayahnya pada tingkat propinsi atau Daerah Tingkat I, serta melaksanakan pelimpahan tugas-tugas Dewan Pimpinan Pusat untuk wilayahnya.

2.  Susunan Dewan Pimpinan Wilayah disusun berdasarkan susunan yang ada pada Dewan Pimpinan Pusat, kecuali diatur tersendiri dengan Surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Dewan Pimpinan Wilayah dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang formatur yang terpilih dalam Musyawarah wilayah (muswil), untuk masa bakti selama 4 (empat) tahun.

4.  Ditempat yang belum ada Dewan Pimpinan Wilayahnya, Dewan Pimpinan Wilayah dapat dibentuk oleh mandataris Dewan Pimpinan Pusat dan/atau diusulkan oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) Dewan Pimpinan Cabang yang sudah ada di wilayah tersebut untuk mendapat pengesahan Dewan Pimpinan Pusat.

5.  Dewan Pimpinan Wilayah terdiri dari:

a.  Pimpinan Harian

b.  Pimpinan Paripurna

6.  Pimpinan Harian Dewan Pimpinan Wilayah sekurang-kurangnya terdiri dari seorang ketua, para ketua mursyid, seorang sekretaris dan seorang bendahara.

7.  Pimpinan paripurna terdiri dari pimpinan harian ditambah para wakil ketua mursyid dan para sekretaris mursyid.

8.  Dewan Pimpinan Wilayah mempunyai tugas dan kewajiban:

a.  Melakukan pembinaan dan pengawasan terha- dap kegiatan perhimpunan di cabang dalam wilayahnya.

b.  Meminta laporan kegiatan Dewan Pimpinan Cabang dalam wilayahnya.

c.  Membentuk cabang baru dalam wilayahnya untuk dimintakan persetujuan dan pengesahan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

d.  Membuat laporan kepada Dewan Pimpinan Pusat tentang kegiatan Dewan Pimpinan Wilayah dan cabang-cabang dalam wilayahnya.

e.  Kewajiban Dewan Pimpinan Wilayah sehari-hari dilaksanakan oleh Pimpinan Harian yang dipertanggungjawabkan dalam Pimpinan Paripurna.

f.   Kewajiban operasional teknis sehari-hari Dewan Pimpinan Wilayah dilaksanakan oleh mursyid yang bertanggung jawab kepada pimpinan harian.

g.  Melaksanakan tugas-tugas khusus yang dilim- pahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat c.q. Majelis-Majelis.

h.Menyelenggarakan Musyawarah Wilayah (MUSWIL) sebelum berakhirnya masa jabatan, dan mempertanggungjawabkan segala kegia- tan Dewan Pimpinan Wilayah dalam MUSWIL tersebut.

i.   Wajib menyelenggarakan MUSWIL selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum diselengga- rakannya Muktamar untuk menampung aspirasi dan mendapat saran-saran dari cabang-cabang untuk disampaikan dalam Muktamar.

9.  Kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah yang tidak berjalan dengan baik atau tidak lengkap lagi, sewaktu-waktu dapat disusun kembali (reshuffle) berdasarkan keputusan rapat Paripurna Dewan Pimpinan Wilayah.

 

 

Pasal 5
Dewan Pimpinan Cabang

 

1.      Dewan Pimpinan Cabang merupakan peme-gang kekuasaan Perhimpunan di tingkat kabupaten/ kota atau di daerah tingkat II, serta melaksanakan pelimpahan tugas-tugas Dewan Pimpinan yang ada di atasnya (Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Wilayah).

2.      Sesuai dengan tuntutan yang berkembang, untuk di suatu Kabupaten atau Kota, dimungkinkan berdirinya lebih dari satu Dewan Pimpinan Cabang.

3.      Dengan berpegang pada peraturan perundang-undangan, Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk cabang khusus di luar negeri yang langsung di bawah pembinaan Dewan Pimpinan Pusat c.q. Majelis hubungan luar negri.

4.      Susunan Dewan Pimpinan Cabang disusun berdasarkan susunan yang ada pada Dewan Pimpinan Pusat, kecuali diatur tersendiri dengan Surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

5.      Dewan Pimpinan Cabang dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 orang formatur yang terpilih dalam Musyawarah cabang (MUCAB), untuk masa bakti selama 4 (empat) tahun.

6.      Di tempat yang belum ada Dewan Pimpinan Cabangnya, Dewan Pimpinan Cabang dapat dibentuk oleh mandataris Dewan Pimpinan Pusat atau Dewan Pimpinan Wilayah apabila di kabupaten atau kota yang bersangkutan terdapat sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang anggota. Untuk kemudian mendapat pengesahan Dewan Pimpinan Pusat.

7.      Dewan Pimpinan Cabang terdiri dari:

a.    Pimpinan Harian

b.    Pimpinan Paripurna

 

8.      Pimpinan Harian Dewan Pimpinan Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari seorang ketua, ketua lajnah, sekretaris dan bendahara.

9.      Pimpinan paripurna terdiri dari pimpinan harian ditambah para wakil ketua Lajnah dan para sekretaris Lajnah apabila ada.

10.    Dewan Pimpinan Cabang mempunyai tugas dan kewajiban:

a.    Kewajiban Dewan Pimpinan Cabang sehari-hari dilaksanakan oleh Pimpinan Harian yang dipertanggungjawabkan dalam Pimpinan Paripurna

b.    Kewajiban operasional teknis dan khusus sehari-hari Dewan Pimpinan Cabang dilaksanakan oleh Lajnah yang bertang-gung jawab kepada pimpinan harian.

c.    Melaksanakan program-program sesuai amar Musyawarah Cabang yang tidak ber-tentangan dengan keputusan Muktamar dan keputusan-keputusan Dewan Pimpinan Pusat

d.    Berpartisipasi aktif dengan organisasi kemasya rakatan lain yang senafas dan menjalin hubu ngan baik serta kerjasama dengan lembaga pemerintah dan swasta khususnya ormas Islam.

e.    Mendorong anggota dan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

f.     Membuat laporan tahunan kepada Dewan Pimpinan Pusat dengan tembusan kepada Dewan Pimpinan Wilayah, tentang kegiatan-kegiatan Dewan Pimpinan Cabang.

g.    Melaksanakan pembinaan dan membe- rikan pelayanan kepada anggota serta menarik iuran dan sumber-sumber dana lainnya untuk menunjang kegiatan cabang.

 

 

Pasal 6
Pembekuan dan Pembubaran Cabang

 

1.  Dewan Pimpinan Cabang yang tidak dapat melaksanakan fungsinya atau nyata-nyata telah berjalan menyimpang dari mabda’ Al-Irsyad dapat dibekukan oleh Dewan Pimpinan Pusat setelah sebelumnya cabang yang bersangkutan telah diberi surat peringatan tertulis sebanyak dua kali.

2.  Dewan Pimpinan Cabang yang masa baktinya telah berakhir tetapi belum menyelenggarakan Musyawarah Cabang (MUCAB) dapat menga- jukan perpanjangan kepada Dewan Pimpinan Pusat paling lama 2 (dua) kali 6 (enam) bulan disertai dengan alasan yang dapat diterima oleh Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Apabila terjadi pembekuan Dewan Pimpinan Cabang, maka Dewan Pimpinan Pusat dapat menunjuk pejabat sementara sampai terseleng garanya MUCAB, selama peralihan cabang tersebut di bawah pengawasan Dewan Pimpinan Wilayah terkait.

4.  Cabang hanya dapat dibubarkan dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

5.  Apabila cabang dibubarkan, Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Wilayah terkait mem-bentuk panitia likuidasi kekayaan cabang tersebut.

 

Pasal 7
Badan Otonom dan Badan Khusus

 

1.  Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk dan mengesahkan pendirian Badan Otonom.

2.  Badan otonom yang dapat dibentuk Dewan Pimpinan Pusat adalah:

a.  Badan otonom Pemuda Al-Irsyad

b.  Badan otonom Pelajar Al-Irsyad

c.  Badan otonom Wanita dan Putri Al-Irsyad

 

3.  Badan otonom dibentuk dengan memiliki struktur dari tingkat pusat sampai cabang dan memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sendiri.

4.  Hubungan antara badan otonom dan Dewan Pimpinan Pusat bersifat koordinasi.

5.  Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Badan Khusus yang bertanggung jawab pada Dewan Pimpinan Pusat.

6.  Badan khusus ini memiliki tugas dan tanggung jawab serta masa bakti yang diatur oleh Dewan Pimpinan Pusat.

 

 


 

BABII
KEANGGOTAANPERHIMPUNAN

 

Pasal 8
Anggota Biasa

 

Anggota biasa Perhimpunan adalah:

1.  Setiap muslim/muslimah yang telah berumur 17 tahun atau telah menikah, memahami mabadi’ Al-Irsyad serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan, dapat menjadi anggota biasa dengan mengajukan secara tertulis kepada Dewan Pimpinan Cabang setempat.

2.  Dewan Pimpinan Cabang yang telah menerima pengajuan keanggotaan dari seseorang selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari harus sudah diajukan kepada Dewan Pimpinan Pusat untuk mendapat pengesahan.

3.  Dewan Pimpinan Pusat berhak menolak permo- honan keanggotaan yang diajukan oleh Dewan Pimpinan Cabang.

4.  Dewan Pimpinan Pusat akan menerbitkan Kartu Tanda Anggota (KTA) kepada seseorang yang permohonannya menjadi anggota perhimpunan diterima, dan akan mencantumkan Nomor Induk Anggota (NIA) dalam Buku Induk Anggota (BIA).

5.  Anggota biasa yang berdomisili di daerah yang belum ada Dewan Pimpinan Wilayah atau Dewan Pimpinan Cabang, merupakan anggota tersebar yang kedudukannya langsung berada di bawah Dewan Pimpinan Pusat atau Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang yang ditunjuk.

 

 

Pasal 9
Anggota Kehormatan

 

1.  Anggota kehormatan adalah seseorang yang telah memberikan jasa yang luar biasa bagi kemajuan dan perkembangan Perhimpunan.

2.  Penerimaan anggota kehormatan dapat dilakukan langsung oleh Dewan Pimpinan Pusat atau atas usul Dewan Pimpinan Wilayah dan/atau Dewan Pimpinan Cabang.

3.  Pengangkatan anggota kehormatan dilakukan dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

4.  Anggota kehormatan diberi KTA oleh Dewan Pimpinan Pusat.

 

 

Pasal 10
Kewajiban Anggota

 

Anggota Perhimpunan wajib:

1.  Mentaati dan menjalankan ajaran Islam, bertauhid dan beribadah yang bersih dari syirik, khurofat, bid’ah dan tahayyul, serta menjauhi perbuatan maksiat dan munkarat.

2.  Memahami dan belajar ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shohihah atas apa yang difahami As-Salafuh Sholeh Ridwanallah alaihim ajmain.

3.  Mematuhi ketentuan dan paraturan Perhimpunan.

4.  Menjaga dan menjunjung tinggi nama baik Perhimpunan sebagai organisasi Islam yang bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.

5.  Membayar iuran anggota sebagaimana diatur oleh perhimpunan.

 

Pasal 11
Hak Anggota

 

1.  Anggota biasa memiliki hak suara, bicara, memilih dan dipilih dalam setiap musyawarah yang dihadirinya.

2.  Anggota kehormatan hanya memiliki hak bicara pada musyawarah yang dihadirinya.

3.  Anggota biasa dan anggota kehormatan berhak mendapatkan informasi, pembinaan, fatwa-fatwa dan mengikuti berbagai bentuk kegiatan perhim punan.

 

Pasal 12
Pemberhentian Anggota

 

1.  Anggota biasa yang berhenti atas permintaan sendiri, harus menyatakan maksudnya secara tertulis kepada Dewan Pimpinan Cabang yang bersangkutan dengan menyertakan KTA yang dimilikinya.

2.  Dewan Pimpinan Cabang harus mengirimkan permohonan pengundurandiri dari anggota kepada Dewan Pimpinan Pusat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak menerima surat pengunduran diri tersebut.

3.  Pengesahan pemberhentian anggota dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan menerbitkan surat keputusan.

4.  Anggota Perhimpunan yang diberhentikan tidak atas permintaan sendiri, diberhentikan dengan keputusan rapat paripurna Dewan Pimpinan Pusat dengan diterbitkannya surat keputusan.

5.  Sebelum Dewan Pimpinan Pusat mengeluarkan surat keputusan pemberhentian anggota, anggota yang bersangkutan telah terlebih dahulu diberi peringatan secara lisan dan tertulis.

6.  Dewan Pimpinan Pusat dapat memberhentikan anggota baik secara langsung atau atas permintaan Cabang.

7.  Anggota yang diberhentikan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak pemberhentiannya dapat melakukan pembelaan dengan cara menulis surat pembelaan kepada Majelis Syuro.

8.  Apabila dalam waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari anggota yang diberhentikan tidak melakukan pembelaan dengan bersurat kepada Majelis Syuro, maka Dewan Pimpinan Pusat akan mengumumkan pemberhentian anggota tersebut seluas-luasnya ke seluruh jajaran organisasi.

9.  Majelis Syuro yang menerima surat pembelaan dari anggota yang diberhentikan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak menerima surat tersebut harus memutuskan dalam rapat Majelis Syuro apakah tetap memberhentikan anggota tersebut atau memba talkan keputusan pemberhentian anggota tersebut oleh Dewan Pimpinan Pusat.

10.Apabila Majelis Syuro membatalkan pemberhen tian anggota yang diberhentikan oleh Dewan Pimpinan Pusat, maka hak-hak anggota tersebut kembali seperti semula, dan apabila pembelaan oleh anggota yang diberhentikan tersebut ditolak oleh Majelis Syuro maka Dewan Pimpinan Pusat mengumumkan secara luas pemberhentian ter- sebut seluasluasnya ke seluruh jajaran organi- sasi.

 


 

BABIII
PERANGKAT PERHIMPUNAN

 

Pasal 13
Majelis

 

1.  Majelis merupakan perangkat Dewan Pimpinan Pusat dan bertanggung jawab atas bidangnya kepada Dewan Pimpinan Pusat.

2.  Majelis-majelis dalam Dewan Pimpinan Pusat ini terdiri dari:

a.  Majelis Pendidikan dan Pengajaran

b.  Majelis Da’wah dan Fatwa

c.  Majelis Organisasi dan Kaderisasi

d.  Majelis Wakaf dan Yayasan

e.  Majelis Sosial dan Ekonomi

f.   Majelis Pemuda dan Pelajar

g.  Majelis Wanita dan Putri

h.Majelis Hubungan Luar Negri

3.  Bilamana diperlukan, Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Majelis baru dan menetap- kannya dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat atas dasar keputusan Paripurna dewan Pimpinan Pusat.

4.  Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis berada di bawah Perhimpunan dan secara teknis bekerja menurut kewenangannya.

5.  Susunan Majelis terdiri dari seorang ketua, seorang wakil ketua, seorang sekretaris dan anggota majelis.

6.  Majelis dapat menunjuk dan mengangkat staf teknis dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

7.  Tugas-tugas Majelis disusun oleh masing-masing Majelis dan disahkan dalam rapat Paripurna Dewan pimpinan Pusat dan dituangkan dalam surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

8.  Ketentuan lain tentang Majelis diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

 

Pasal 14
Mursyid

 

1.  Mursyid merupakan perangkat Dewan Pimpinan Wilayah dan bertanggung jawab atas bidangnya kepada Dewan Pimpinan Wilayah.

2.  Mursyid dibentuk secara mutatis mutandis dengan Majelis sesuai kebutuhan, kecuali hubungan luar negri.

3.  Susunan Mursyid terdiri dari seorang ketua, seorang wakil ketua, seorang sekretaris dan anggota mursyid.

4.  Mursyid dapat menunjuk dan mengangkat staf teknis dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Wilayah.

5.  Tugas-tugas Mursyid antara lain:

a.  Membantu pelaksanaan kebijakan majelis di cabang.

b.  Mengkoordinir, membina dan membantu program lajnah.

c.  Meningkatkan kemampuan kinerja lajnah melalui pendidikan dan pelatihan.

6.  Ketentuan lain tentang Majelis diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Wilayah.

 

 

Pasal 15
Lajnah

 

1.  Lajnah merupakan perangkat Dewan Pimpinan Cabang dan bertanggung jawab atas bidangnya kepada Dewan Pimpinan Cabang.

2.  Lajnah dibentuk secara mutatis mutandis dengan Majelis sesuai kebutuhan, kecuali majelis wakaf dan yayasan serta majelis hubungan luar negri.

3.  Susunan lajnah terdiri dari seorang ketua, seorang wakil ketua, seorang sekretaris dan anggota lajnah.

4.  Lajnah dapat menunjuk dan mengangkat staf teknis dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Cabang.

5.  Tugas-tugas lajnah antara lain:

a.  Mengelola kegiatan operasional sesuai kegiatan majelis.

b.  Melaporkan kegiatan kepada majelis yang bersangkutan secara berkala.

c.  Tugas-tugas lajnah secara rinci diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

 

6.  Ketentuan lain tentang lajnah diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Cabang.

 

 


 

BAB IV
MUSYAWARAH DAN RAPAT

 

Pasal 16
Muktamar

1.  Muktamar dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali, dipimpin dan diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat dengan membuat panggilan tertulis kepada seluruh Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Pimpinan Cabang dan seluruh peserta peninjau dengan mencantumkan waktu, tempat dan agenda Muktamar sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelum diselenggarakannya Muktamar.

2.  Peserta Muktamar terdiri dari:

a.  Peserta Penuh

b.  Peserta Peninjau

3.  Peserta penuh memiliki hak suara dan hak bicara dalam Muktamar, sedangkan peserta peninjau hanya memiliki hak bicara dan tidak memiliki hak suara.

4.  Peserta penuh terdiri dari:

a.  Anggota Majelis Syuro yang hadir

b.  Anggota Dewan Pimpinan Pusat yang hadir

c.  Badan otonom dan Badan khusus yang ada

d.  Utusan Dewan Pimpinan Wilayah yang jumlahnya diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

e.  Utusan Dewan Pimpinan Cabang yang jumlahnya diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

5.  Peserta peninjau adalah perorangan atau lem- baga yang diundang oleh Dewan Pimpinan Pusat.

6.  Muktamar membahas dan memutuskan:

a.  Laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Pusat tentang kegiatan yang dilakukan selama masa baktinya.

b.  Membahas dan menetapkan Anggaran Dasar Perhimpunan.

c.  Memilih dan menetapkan anggota Dewan Syuro.

d.  Agenda lain yang ditentukan oleh Muktamar.

 

7.  Muktamar Luar Biasa dapat dilaksanakan sewaktu-waktu diluar jadwal Muktamar berdasar kan keputusan rapat pleno Majelis Syuro.

8.  Muktamar Luar Biasa dipimpin dan diselengga rakan oleh Dewan Syuro.

9.  Sifat Luar Biasa dari Muktamar Luar Biasa tersebut hanyalah pada waktu pelaksanaannya yang menyimpang dari waktu yang lazim, sedangkan tatacara, materi dan dasar hukumnya sama dengan Muktamar biasa, serta keputusan-keputusannya adalah merupakan keputusan tertinggi dalam perhimpunan.

 

 

Pasal 17
Musyawarah Kerja

 

1.  Musyawarah kerja (MUKER) terdiri dari:

a.  Musyawarah kerja nasional (Mukernas) di selenggarakan di tingkat pusat.

b.  Musyawarah kerja wilayah (Mukerwil) di selenggarakan di tingkat wilayah

c.  Musyawarah kerja cabang (Mukercab) di selenggarakan di tingkat cabang

2.  Muker sedikitnya diselenggarakan sekali dalam masa bakti.

 

3.  Mukernas membahas dan memutuskan program kerja serta masalah-masalah teknis operasional terkait bidang tugas yang diselenggarakan oleh majelis.

4.  Mukerwil membahas dan memutuskan program kerja serta masalah-masalah teknis operasional terkait bidang tugas yang diselenggarakan oleh mursyid.

5.  Mukercab membahas dan memutuskan program kerja serta masalah-masalah teknis operasional terkait bidang tugas yang diselenggarakan oleh lajnah.

6.  Peserta Mukernas terdiri dari majlis, mursyid dan lajnah terkait dengan bidang tugas.

7.  Semua peserta yang hadir mempunyai hak suara dan hak bicara.

 

Pasal 18
Musyawarah Wilayah

 

1.  Musyawarah Wilayah (Muswil) diadakan sedi- kitnya 4 (empat) tahun sekali dan dipimpin serta diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Wilayah atau mandataris yang ditunjuk oleh Dewan Pimpinan Pusat.

2.  Muswil dapat diselenggarakan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan untuk membahas dan memu- tuskan hal-hal mendesak yang menyangkut kepentingan perhimpunan dengan persetujuan Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Muswil diselenggarakan dengan panggilan tertulis yang memuat waktu, tempat dan agenda acara, yang paling lambat 15 (lima belas) hari sebelum Muswil, dengan tembusan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

4.  Peserta Musyawarah Wilayah terdiri dari:

a.  Peserta Penuh

b.  Dewan Pimpinan Pusat

c.  Peserta Peninjau

5.  Hanya peserta penuh yang memiliki hak bicara dan hak suara, selain peserta penuh hanya memiliki hak bicara dan tidak memiliki hak suara.

6.  Peserta penuh terdiri dari:

a.  Anggota Dewan Pimpinan Wilayah yang hadir.

b.  Utusan cabang yang jumlahnya diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Wilayah.

7.  Musyawarah Wilayah membahas dan memu tuskan:

a.  Laporan kegiatan Dewan Pimpinan Wilayah selama masa baktinya

b.  Memilih dan mengangkat formatur yang jumlahnya paling sedikit 3 (tiga) orang dan paling banyak 7 (tujuh) orang, dimana formatur bertugas menyusun Dewan Pimpinan Wilayah dan Majelis Istisyariyyah untuk masa bakti 4 (empat) tahun berikutnya dan memintakan pengesahan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

c.  Agenda lain yang ditetapkan dalam Musya-warah Wilayah.

 

Pasal 19
Musyawarah Cabang

 

1.  Musyawarah Cabang (Mucab) diadakan sedi- kitnya 4 (empat) tahun sekali dan dipimpin serta diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang atau mandataris yang ditunjuk oleh Dewan Pimpinan Pusat.

2.  Mucab dapat diselenggarakan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan untuk membahas dan memu tuskan hal-hal mendesak yang menyangkut kepen tingan perhimpunan dengan persetujuan Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Mucab diselenggarakan dengan panggilan tertulis yang memuat waktu, tempat dan agenda acara, yang paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum Mucab, dengan tembusan kepada Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Wilayah.

4.  Peserta Musyawarah Wilayah terdiri dari:

a.  Peserta Penuh

b.  Peserta Peninjau yang diundang oleh Dewan Pimpinan Cabang

c.  Dewan Pimpinan Wilayah dan/atau Dewan Pimpinan Pusat

5.  Hanya peserta penuh yang memiliki hak bicara dan hak suara, selain peserta penuh hanya memiliki hak bicara dan tidak memiliki hak suara.

6.  Peserta penuh terdiri dari:

a.  Anggota biasa yang memiliki Kartu Tanda Anggota

b.  Anggota biasa yang belum memiliki Kartu Tanda Anggota, tetapi terdaftar dalam buku keanggotaan Dewan Pimpinan Cabang dan/atau Dewan Pimpinan Pusat.

7.  Musyawarah Cabang membahas dan memu- tuskan:

a.  Laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Cabang yang dilaksanakan selama masa baktinya.

b.  Pengesahan dan penyusunan program kerja Dewan Pimpinan Cabang untuk 4 (empat) tahun mendatang.

c.  Memilih dan mengangkat formatur yang jumlahnya paling sedikit 3 (tiga) orang dan paling banyak 7 (tujuh) orang, dimana formatur bertugas menyusun Dewan Pimpinan Cabang dan Majlis Istisyariyyah untuk masa bakti 4 (empat) tahun berikutnya dan memintakan pengesahan kepada Dewan Pimpinan Pusat.

d.  Agenda lain yang ditetapkan dalam Musya warah Cabang.

 

 

Pasal 20
Rapat Harian dan Rapat Paripurna

 

1.  Rapat Harian adalah rapat yang dihadiri oleh pimpinan harian baik di DPP, DPW dan DPC.

2.  Rapat Paripurna adalah rapat yang dihadiri oleh pimpinan paripurna baik di DPP, DPW dan DPC.

 

 

Pasal 21
Rapat Koordinasi

 

1.  Rapat koordinasi (Rakor) merupakan forum rapat antara Dewan Pimpinan Pusat dengan Dewan Pimpinan Wilayah dan/atau Dewan Pimpinan Cabang.

2.  Rapat koordinasi juga dapat dilaksanakan antara Dewan Pimpinan Pusat dengan badan-badan otonom dan/atau badan khusus yang dibentuk Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Rapat koordinasi terdiri dari:

a.  Rapat koordinasi nasional (Rakornas) dilaksa- nakan oleh DPP yang dihadiri para DPW dan/atau DPC.

b.  Rapat koordinasi wilayah (Rakorwil) dilaksa- nakan oleh DPW yang dihadiri oleh DPC-DPC di wilayah tersebut.

c.  Rapat pimpinan sewaktu-waktu dapat dilaksa- nakan oleh DPP atau DPW.

 

 


 

BABV
KEUANGAN

 

Pasal 22
Pendapatan Perhimpunan

 

1.  Pendapatan Perhimpunan diperoleh dari:

a.  Uang pangkal dan iuran anggota.

b.  Sumbangan, donasi, dan lain-lainnya.

2.  Besarnya iuran anggota ditentukan dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Penentuan peruntukan uang iuran anggota diatur dengan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

 


 

BABVI
ATRIBUT PERHIMPUNAN

 

Pasal 23
Atribut Perhimpunan

 

Lambang, bendera dan atribut perhimpunan lainnya ditetapkan dengan surat keputusan dewan Pimpinan Pusat dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan Majelis Syuro.

 

BABVII
PERUBAHANANGGARAN RUMAHTANGGA

 

Pasal 24
Perubahan

 

1.  Perubahan atau penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga dapat dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat melalui rapat paripurna dan persetujuan Majelis Syuro dan ditetapkan dalam surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat.

2.  Perubahan Anggaran Rumah Tangga tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar.

 

BABVIII
KETENTUANUMUM

 

Pasal 25
Ketentuan Umum

 

1.  Seluruh jajaran perhimpunan wajib mencegah digunakannya nama Perhimpunan Al-Irsyad oleh badan atau perorangan di luar organisasi bukan untuk kepentingan Perhimpunan.

2.  Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap produk-produk peraturan Perhimpunan, maka penafsiran yang benar dan dapat dilaksanakan adalah apa yang menjadi penafsiran Majelis Syuro.

 

BABIX
PERATURAN PERALIHAN DAN PENUTUP

 

Pasal 26
Peraturan Peralihan

 

1.  Dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan terhitung mulai hari dan tanggal ditetapkannya Anggaran Rumah Tangga ini, seluruh jajaran Perhimpunan harus menyesuaikan dengan Anggaran Rumah Tangga ini.

2.  Segala sesuatu yang belum diatur atau tidak terurai secara jelas dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur dalam peraturan-peraturan yang diputuskan oleh Dewan Pimpinan Pusat.

3.  Seluruh Anggota dan jajaran Perhimpunan Al-Irsyad dianggap telah mengetahui dan mengerti seluruh isi Anggaran Rumah Tangga ini.

Pasal 27
Penutup

Anggaran Rumah Tangga ini berlaku mulai tanggal ditetapkan yaitu 3 Rabiu Tsani 1430 H bertepatan dengan tanggal 30 Maret 2009.

 

 

                                      Jakarta, 03 Rabi’ Tsani 1430 H

                                                    30     Maret      2009 M

 

 

 


 

MABADI’ AL-IRSYAD

 

A.     ARTI KATA MABDA’ & MABADI’

1.      Berdasarkan bahasa

المبدأ : مبدأ الشئ أوله              

        المبدأ ج مبادئ : الأصل ، السبب ، عقيدة ، القاعدة 

       Awal, asal, sebab, aqidah, kaidah-kaidah & pokok-pokok.

2.      Berdasarkan penggunaannya

·         Mabadi’ adalah konsep yang mengum- pulkan prinsip-prinsip yang menjadi landasan keyakinan, perbuatan, dan sikap orang yang telah menyatakan taat kepadanya.

·         Mabadi’ Al-Irsyad adalah Konsep yang mengumpulkan prinsip-prinsip Al-Irsyad yang menjadi landasan keyakinan, perbuatan, dan sikap anggota Perhimpu- nan Al-Irsyad.

 

B.    RUMUSAN MABADI’ AL IRSYAD

1.      RUMUSAN TAHUN 1938

a.     Mentauhidkan Allah dengan tauhid yang murni, jauh dari syirik yang nampak maupun tersembunyi, baik dalam keya- kinan, perbuatan maupun perkataan.

b.     Memelihara ibadah-ibadah baik sholat, shaum, zakat, haji dan lain-lainnya tanpa menyepelekannya sama sekali.

c.      Menghidupkan Sunnah yang benar dan meninggalkan bid’ah-bid’ah serta tidak mau ikut menebarnya. (bid’ah-bid’ah)

d.     Bekerjasama dalam kebaikan dan ketaq- waan dan tidak bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.

e.     Adalah wajib menganggap muslimin bersaudara, tidak melebihkan seseorang lebih dari yang lainnya kecuali karena ilmu dan ketaqwaan.

f.       Menyuruh orang berbuat kebaikan dan melarangnya dari berbuat kemungkaran, sekuat kemampuan, dengan cara yang terbaik.

g.     Meninggalkan adat-istiadat yang buruk dan bertentangan dengan jiwa agama serta mengganggu kehormatan diri.

h.     Memelihara kemuliaan diri dan perbua- tan yang berhormat serta tidak meren- dahkan diri untuk selain Allah.

i.       Memelihara akhlaq Islamy yang intinya adalah ”cintailah saudaramu seperti engkau menciantai dirimu sendiri”.

 

2.      RUMUSAN USTADZ UMAR SULAIMAN NAJI

a.     Mentauhidkan Allah dengan tauhid yang bersih dari noda-noda syirik, mengikhlas kan ibadah kepada Allah dan meminta bantuan hanya kepada Allah dalam setiap perkara.

b.     Merealisasikan kebebasan dan persa- maan diantara muslimin dan berhukum kepada Al-Qur’an, As Sunnah, pemaha-man para Imam yang terpandang dan sejarah hidup As Salafus Sholeh dalam menghadapi perbedaan pendapat.

c.      Memberantas taqlid buta yang tidak ber- sandar kepada akal maupun syari’ah (naql)

d.     Menebarkan ilmu dan pengetahuan yang didapat dari bangsa Arab dan ajaran Islam serta menebarkan akhlaq yang diridhoi.

e.     Berusaha mempersatukan umat Islam dan bangsa Arab dalam persatuan yang dicintai dan diridhli oleh Allah SWT.

 

3.  RUMUSAN MU’TAMAR BONDOWOSO TAHUN 1970

a.     Memahami ajaran Islam dari Al-Qur’an dan Sunnah dan bertahkim kepada keduanya.

b.     Beriman dengan aqidah Islamiyyah yang berdasarkan nash-nash kitab Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih, terutama bertauhid kepada Allah yang bersih dari syirik, takhayul, dan khurofat.

c.      Beribadat menurut tuntunan Kitabulloh dan Sunnah Rasul-Nya, bersih dari bid’ah

d.     Berakhlak dengan adab – susila yang luhur, moral dan etik Islam serta men-jauhi adat-istiadat, moral dan etik yang bertentangan dengan Islam.

e.     Memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan dunia-wi dan ukhrowi yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

f.       Meningkatkan kehidupan dan pengeta- huan duniawi, pribadi dan masyarakat selama tidak diharamkan oleh Islam dengan nash, serta mengambil faedah dari segala alat dan cara teknis, organi sasi, dan administrasi modern yang bermanfaat bagi pribadi dan umat, materil, moril dan spirituil.

g.     Bergerak dan berjuang secara terampil dan dinamis dengan pengorganisasian dan koordinasi yang baik bersama-sama organisasi-organisasi lain dengan jiwa ukhuwah Islamiyyah dan setia kawan serta saling bantu dalam memperju angkan cita-cita Islam yang meliputi kebenaran, kemerdekaan, keadilan dan kebajikan serta keutamaan menuju keridhoan Allah.

 

C.    USULAN RUMUSAN MABADI’ AL IRSYAD

1.      Mentauhidkan Allah dengan tauhid yang murni, jauh dari syirik yang nampak maupun tersembunyi, baik dalam keyakinan, perbua- tan maupun perkataan.

2.      Memelihara ibadah-ibadah baik sholat, shaum, zakat, haji dan lain-lainnya tanpa menyepelekannya sama sekali.

3.      Menghidupkan sunnah yang benar dan meninggalkan bid’ah-bid’ah serta tidak mau ikut menebarnya. (bid’ah-bid’ah)

4.      Bekerjasama dalam kebaikan dan ketaq-waan dan tidak bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.

5.      Adalah wajib menganggap muslimin bersau- dara, tidak melebihkan seseorang lebih dari yang lainnya kecuali karena ilmu dan ketaq-waan.

6.      Menyuruh orang berbuat kebaikan dan mela-rangnya dari berbuat kemungkaran, sekuat kemampuan, dengan cara yang terbaik.

7.      Meninggalkan adat-istiadat yang buruk dan bertentangan dengan jiwa agama serta mengganggu kehormatan diri.

8.      Memelihara kemuliaan diri dan perbuatan yang berhormat serta tidak merendahkan diri untuk selain Allah.

9.      Memelihara akhlaq Islamy yang intinya adalah ”cintailah saudaramu seperti engkau mencintai dirimu sendiri”.

10.   Merealisasikan kebebasan dan persamaan diantara muslimin dan berhukum kepada Al-Qur’an, As Sunnah, pemahaman para Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah  dan sejarah hidup As Salafus Sholeh dalam menghadapi perbedaan pendapat.

11.   Memberantas taqlid buta yang tidak bersan-dar kepada akal maupun syari’ah (naql)

12.   Menebarkan ilmu dan pengetahuan yang didapat dari bangsa Arab dan ajaran Islam serta menebarkan akhlaq yang diridhoi.

13.   Berusaha mempersatukan umat Islam dan bangsa Arab dalam persatuan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT.

14.   Meningkatkan kehidupan dan pengetahuan duniawi, pribadi dan masyarakat selama tidak diharamkan oleh Islam dengan nash, serta mengambil faedah dari segala alat dan cara teknis, organisasi, dan administrasi modern yang bermanfaat bagi pribadi dan umat, materil, moril dan spirituil.

15.   Bergerak dan berjuang secara terampil dan dinamis dengan pengorganisasian dan koor-dinasi yang baik bersama-sama organi sasi-organisasi lain dengan jiwa ukhuwah Islamiyyah dan setia kawan serta saling bantu dalam memperjuangkan cita-cita Islam yang meliputi kebenaran, kemerdekaan, keadilan dan kebajikan serta keutamaan menuju keridhoan Allah.



 

PROGRAM  KERJA PERHIMPUNAN  AL-IRSYAD

GARIS-GARIS BESAR ARAH PROGRAM

(GARIS PERAN)

PERHIMPUNAN AL-IRSYAD 

1430-1435 H/2009-2014 M

 

BAB I

MUQADDIMAH

  

A. PENGERTIAN DAN HAKIKAT

 

1.    Garis-garis Besar Arah Program Perhimpunan Al-Irsyad yang selanjutnya  disebut Garis Peran Perhimpunan adalah niat jama'ah berbentuk besaran-besaran yang hendak ditunaikan oleh seluruh Pimpinan dan warga Perhimpunan.

2.    Garis Peran Perhimpunan Al-Irsyad pada hake-katnya merupakan ikhtiar pengembangan Per-himpunan untuk membentuk insan indonesia yang berilmu pengetahuan, berahlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada  Allah  SWT.

3.    Meningkatkan kesadaran kolektif melalui peran- serta dalam pembangunan bangsa, setia dalam pengabdian untuk kemajuan negara kesatuan Republik Indonesia.

 

B. MAKSUD DAN TUJUAN

1.    Garis-Peran Perhimpunan Al-Irsyad bermaksud memberi arah bagi setiap Pimpinan dan warga Perhimpunan didalam memilih dan menentukan program-program pengembangan Perhimpunan.

2.    Tujuan GarisPeran Perhimpunan Al-Irsyad adalah untuk mewujudkan suatu keadaan yang dikehendaki dalam kurun lima tahun yang akan datang sebagai suatu rangkaian ikhtiar untuk meraih tujuan Perhimpunan dalam jangka panjang.

C. LANDASAN

Penyusunan Garis- Peran Perhimpunan Al-Irsyad  ini berlandaskan pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan.

D. SISTEMATIKA GARIS-PERAN PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

Garis Peran Perhimpunan Al-Irsyad disusun dengan sistematika sebagai berikut :

1.     MUQADDIMAH

2.     POLA DASAR PENGEMBANGAN

3.     POLA UMUM PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG

4.     POLA UMUM PENGEMBANGAN LIMA TAHUN

5.     KHATIMAH

  


 

BAB II

POLA DASAR PENGEMBANGAN

 

A.     TUJUAN PENGEMBANGAN PERHIMPUNAN

1     .Pengembangan Perhimpunan bertujuan mewu-judkan organisasi perhimpunan yang kuat dan mandiri

2     Pengembangan Perhimpunan bertujuan mewu-judkan manusia Indonesia yang beriman, ber-taqwa, berilmu, berakhlak karimah, bertauhid kepada Allah  SWT, yang bersih dari syirik, takhayul dan khurafat serta mengamalkan sunnah Rasulullah saw yang bersih dari bid'ah dan terwujudnya masya- rakat adil Makmur yang diridhoi Allah  SWT.

 

B.    MABDA DAN  KHITTAH PENGEMBANGAN PERHIMPUNAN

Keseluruhan kegiatan pengembangan berpedo-man pada MABADI Perhimpunan yaitu :

1.        Memahami Ajaran Islam dari Al-Qur'an dan As-sunnah serta bertahkim kepadanya.

2.        Beriman dengan aqidah Islamiyah yang berdasarkan Nash Kitab Al-Qur'an dan As-sunnah yang shahih, sebagaimana pema-haman sahabat atau Assalafusshalih teru-tama bertauhid kepada Allah yang bersih dari syirik, takhayul dan khurafat.

3.        Beribadah menurut tuntunan Kitabullah dan Sunnah Rasul, bersih dari bid'ah.

4.        Berahklak dengan adab susila yang luhur, moral dan etika Islam serta menjauhi adat istiadat, moral dan etika yang betentangan dengan Islam.

5.        Memperluas dan memperdalam ilmu penge-tahuan untuk kesejahteraan duniawi dan ukhrawi yang diridhoi Allah Subhanahu wata'ala.

6.        Meningkatkan kehidupan dan penghidupan duniawi, berkhidmat kepada masyarakat selama tidak diharamkan oleh Islam dengan nash serta mengambil faedah dari segala alat dan cara teknis organisasi, administrasi modern yang bermanfaat bagi pribadi dan ummat, material, moral dan spiritual.

7.        Bergerak dan berjuang secara terampil dan dinamis dengan pengorganisasian dan koor-dinasi yang baik, bersama organisasi-organisasi lain dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah dan setiakawan serta saling bantu dalam memperjuangkan cita-cita Islam yang meliputi kebenaran, kemerdekaan, keadilan dan kebajikan serta keutamaan menuju keridhoan Allah.

Khitthah Pengembangan Perhimpunan berpijak pada motto :

”AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR”

C. MODAL  DASAR

Modal dasar pengembangan merupakan potensi yang dimiliki Perhimpunan ialah :

1.     Risalah Kelahiran Perhimpunan :

a.    Pemurnian Aqidah Islamiyyah

b.    Turut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara Indonesia yakni terwujud masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah  SWT.

2.     Kedudukan, fungsi dan keberadaan Perhim-punan dijamin oleh UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 8 tahun 1985.

3.     Hasil-hasil yang telah dicapai oleh Perhimpunan serta aset yang dimilikinya.

4.     Jumlah angggota yang cukup besar tersebar di seluruh wilayah didalam dan luar negeri yang mempunyai kesamaan aqidah Islamiyyah

5.     Adanya niat mengamalkan amar ma'ruf nahi niunkar serta ikut mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata'ala

 

 


 

BAB III

POLA UMUM PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG

Ikhtiar untuk mencapai tujuan Perhimpunan membu-tuhkan proses dan waktu yang panjang. Menyadari akan hal tersebut, maka disusunlah Pola Umum Pengembangan Jangka Panjang, sebagai petunjuk tentang arah program Perhimpunan dalam mencapai tujuannya.

A. MUQADDIMAH

 

1.     Perhimpunan Al-lrsyad yang didirikan pada hari Sabtu tanggal 12 Rabbiul Awal 1428 H  bertepatan dengan  tanggal 31 Maret 2007 di Jakarta dan telah terdaftar di  Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia dengan SKT Nomor: 99/D.III. 2/XI/2007, telah menjadi wadah para anggota untuk melaksanakan upaya pemurnian aqidah tauhid, ibadah dan amaliah Islam.

2.     Upaya-upaya tersebut dihadapkan pada masya-rakat majemuk (budaya, suku dan keadaan sosial dengan sifat-sifatnya yang semakin dinamis dan kritis) memerlukan pendekatan dan pengembangan yang lebih arif, kreatif dengan hikmah serta uswah hasanah.

3.     Untuk mencapai tujuan Perhimpunan secara terarah, Pola Umum Pengembangan Jangka Panjang disusun agar menjadi pedoman penyu-sunan pada semua jenjang dan lembaga di lingkungan Perhimpunan.

B. ARAH PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG

1.     Keseluruhan kegiatan Perhimpunan diselengga-rakan untuk pembentukan insan yang beriman dan bertaqwa serta peningkatan taraf hidup masyarakat. Hal ini berarti program pengem-bangan mencakup dimensi pengabdian kepada Allah  SWT, hablumminallah dan hablummi-nannas.

2.     Pelaksanaan Program Perhimpunan pada haki-katnya merupakan manifestasi dari pada ibadah dan partisipasi dalam pembangunan masyara-kat.Dengan demikian Perhimpunan berniat untuk memberikan sumbangan pemikiran dan berbagai sumber daya lain yang dimilikinya secara maksimal bagi kelestarian Risalah Nabi Muhammad saw, sesuai dengan Al-Qur'an dan As-sunnah serta untuk terwujudnya kesejah-teraan dan kemaslahatan hidup masyarakat Indonesia

3.     Sasaran utama pengembangan jangka panjang adalah terwujudnya perhimpunan yang mandiri, maka titik tekan pengembangan jangka panjang ialah: Pengembangan pendidikan sebagai sum-berdaya insani dalam rangka meraih pemaha-man yang tepat akan nilai-nilai ke-Islaman, mabadi Al-lrsyad, kecerahan berfikir dan kerja yang profesional.

Pengembangan pendidikan yang baik harus didu-kung oleh organisasi dan manajemen yang efektif. Itu berarti, pengelolaan pendidikan tidak saja harus memahami mabadi Al-Irsyad, tetapi juga terkait dengan  kemampuan merencanakan, melaksana-kan, mengorganisasi dan mengeavaluasi pelaksa-naan pendidikan. Persyaratan tersebut sejalan dengan semakin bertambahnya lembaga-lembaga pendidikan di beberapa wilayah tanah air, sebagai bukti sekaligus  jawaban  terhadap kebutuhan  ma-syaakat terhadap kehadiran Perhimpunan di wilayah tersebut.

Dengan demikian pengembangan sumber  daya insani melalui pendidikan mengisyaratkan bahwa pengembangan dakwah, ekonomi, kesejahteraan umum dan lain-lain merupakan suatu rangkaian program yang terpadu, menyeluruh dan berkelan-jutan. Hal ini berarti keberhasilan yang diperoleh pada bidang pengembangan pendidikan harus mem-berikan nilai lebih dan dapat menunjang pengem-bangan bidang lain,  demikian juga sebaliknya.

Pengembangan Perhimpunan jangka panjang harus dapat melahirkan perubahan-perubahan azasi dalam struktur berfikir yang Islami dengan cepat dan tepat, maka diikhtiarkan dengan serius konsep IDI (Islam untuk disiplin ilmu) diterapkan secara proporsional pada seluruh lembaga Pendidikan Perhimpunan Al-Irsyad. Oleh karena itu, Islam dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam melaksanakan program - program pengembangan perhimpunan.

Untuk pengembangan  bidang pendidikan antara lain mengacu pada :

"Dan agar orang -orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur’an itulah haq dan Rabb-mu. lalu  mcreka beriman dan tunduk hati kepadanya "..........( Q.S  22 : 54)

"Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keteramplan, kesehatan rohani dan jasmani, kepri-badian yang mantap dan mandiri serta rasa tang-gungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan "(UUNo.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 4).Pelaksanaan Program Pengem-bangan Perhimpunan haruslah didukung dengan manajemen organisasi yang efektif, terkonsolidasi, baik  secara struktural maupun fungsional.

Realitas sosial di Indonesia menunjukkan aktualisasi program-program pengembangan Perhimpunan mengharuskan kerja berjamaah dan kesatuan ima-mah, penuh amanah serta nasihat -menasihati.

Adapun sasaran-sasaran yang hendak dicapai dalam berbagai program pengembangan jangka panjang, adalah :

a-    Pengembangan Pendidikan

b-    Pengembangan Da’wah

c-    Pengembangan usaha sosial ekonomi umat

d-    Pengembangan organisasi dan kaderisasi

e-    Pemberdayaan Muslimah

Untuk mencapai tujuan pengembangan jangka panjang, perlu ditetapkan tahap-tahappelaksanaan pengembangan, sebagai berikut:

Tahap I

Program Bidang Pendidikan khususnya  Agama dan Bahasa Arab, merupakan program prioritas disam-ping bidang sosial ekonomi, keorganisasian dan kaderisasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan   Pengembangan Perhimpunan Al-Irsyad

 

Tahap II

Pengembangan Perhimpunan pada tahap kedua lebih difokuskan pada pemantapan hasil pengem-bangan pendidikan yang diperoleh pada tahapan pertama serta meningkatkan pengembangan pada bidang-bidang  lain sesuai tuntutan kebutuhan 

 

Tahap III

Titik tekan pengembangan Perhimpunan Al-Irsyad pada tahap selanjutnya adalah upaya memper-tahankan, pemeliharaan hasil yang diperoleh pada tahapan sebelumnya serta mempersiapkan ran-cangan jangka panjang berikutnya.

 


 

BAB IV

POLA UMUM PENGEMBANGAN LIMA TAHUN KE DUA

 

A. MUQADDIMAH

1.    Pola umum pengembangan lima tahun  (1430- 1435 H,/2009-2014 M ) adalah Garis-Garis Besar Usaha Pengembangan dan merupakan penjabaran dari pola umum pengembangan jangka panjang untuk mencapai tujuan Perhimpunan.

2.    Ikhtiar pengembangan ini merupakan kelanjutan pengembangan dan penyempurnaan dari Pola Umum Pengembangan tahun sebelumnya, sesuai ketetapan Mu'tamar ke-I Perhimpunan Al-lrsyad  Nomor : 05 /Mu'tamar-I/1429 H, tentang Garis Peran Arah Perhimpunan Al-lrsyad.

3.    Menyadari bahwa semua warga perhimpunan adalah hamba dan khalifatullah fil ardh, maka perlu senantiasa diikhtiarkan peningkatan mutu dan intensitas pengabdian kepada Allah serta turut meningkatkan taraf hidup anggota dan masyarakat sekitarnya. Terkait dengan dengan hal ini, maka seluruh aparat di lingkungan perhimpunan harus pula ditingkatkan fungsi dan peranannya sebagai khalifah sesuai dengan tuntunan Islam dan tuntutan umat.

4.    Pola umum pengembangan lima tahun meliputi bidang-bidang :

a. Pendidikan

b. Da’wah

c. Usaha Sosial Ekonomi Umat

d. Organisasi dan Kaderisasi

e. Pengembangan Publikasi dan Informasi

B. TUJUAN

 

Tujuan dilaksanakan Program Pengembangan Lima Tahun  ialah :

Terwujudnya pemantapan hasil pengembangan pendidikan yang telah diperoleh padatahapan sebelumnya serta meningkatkan pengembangan bidang-bidang lainnya.Menetapkan landasan yang kokoh untuk pengembangan perhimpunan lima tahun tahapberikut

C. PRIORITAS

1.    Sejalan dengan pola pemgembangan jangka panjang, maka program pengembangan lima tahun berikut yakni meletakkan pengembangan pendidikan sebagai prioritas, terutama pendi-dikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

2.    Pengembangan bidang-bidang lain dilakukan dan diselenggarakan sesuai kepentingan-kepentingan yang saling menunjang antar bidang-bidang pengembangan perhimpunan.

D. ARAH PENGEMBANGAN

Pengembangan perhimpunan lima tahun berikut, tetap melanjutkan arah pengembangan tahap sebelum dengan lebih meningkatkan bobot serta kualitasnya, sehingga semakin nyata dalam mening-katkan mutu pendidikan, taraf hidup dan ketaqwaan anggota serta masyarakat Indonesia. Pengem-bangan semua bidang kegiatan perhimpunan diarahkan kepada semakin mantapnya pemahaman Al-Islam sesuai dengan sunnah rasul dan pema-haman salafushalih sebagai suatu sistem kehidupan, pemahaman akan Mabadi Al-Irsyad dan partisipasi Perhimpunan dalam pembangunan nasional.

1. PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

Untuk memantapkan pengembangan bidang pendi-dikan terutama pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, semua kebijakan yang telah berhasil-baik selama ini, akan terus ditingkatkan. Faktor-faktor pendidikan seperti guru, peserta didik, pengelola sekolah, orang tua, lingkungan, kurikulum, metode, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana harus senantiasa ditingkatkan mutu dan jumlahnya. Merumuskan dan  memberlakukan sistem pengga-jian dan jaminan hari tua bagi guru dan karyawan Perhimpunan Al-Irsyad. Dengan demikian diharap-kan akan mendorong adanya hubungan kerja yang lebih baik dan berlangsung langgeng antar warga pendidikan perhimpunan

Pengembangan Pendidikan diarahkan pada tercip-tanya anak didik yang beriman, bertaqwa, cerdas, profesional, amanah, dan trampil dalam bidangnya. Untuk itu perlu dikembangkan suasana belajar mengajar yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan percaya diri serta sikap dan perilaku yang Islami.

Untuk meraih arah pengembangan pendidikan tersebut, perlu segera disusun sistem pendidikan perhimpunan yang sejalan dengan Al-Qur'an dan As-sunah serta Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, melalui suatu Musyawarah Kerja Pendi-dikan, sehingga  sekolah-sekolah Perimpunan Al-Irsyad secara nasional  mampu bersaing dalam mengisi pasar kerja. Oleh karena itu,  pembentukan SMU unggulan menjadi satu pilihan strategis. Dengan demikian perlu ditunjuk satu atau dua perguruan PerhimpunanAl-Irsyad di kota regional yang akan dijadikan proyek percontohan (Pilot Project). Selain itu, dalam menghadapi kesenjangan antar pertumbuhan angkatan kerja yang cukup tinggi, dengan pengadaan lapangan kerja yang masih terbatas, perlu dilaksanakan pendidikan informal, baik dikelola sendiri maupun bekerjasama dengan dunia usaha serta melakukan study kelayakan mengenai kemungkinan didirikannya Perguruan Tinggi.

2. PENGEMBANGAN DA’WAH

a-    Membina anggota dan masyarakat menjadi KHAIRA UMMAH merupakan suatu kewajiban. Terkait upaya mewujudkan khaira Ummah, maka mejadi  keharusan bagi Perhimpunan senantiasa memantapkan dan meningkatkan peran muba-ligh/da'i/da’iah ditengah kehidupan masya rakat bangsa.

b-     Untuk menjaga kesinambungan Ulama dan perannya dalam membina kehidupan umat, perlu diadakan pengkaderan ulama melalui pendidikan formal tingkat tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri atau dengan mempersiapkannya melalui lembaga-lembaga pendidikan Perhimpunan Al-Irsyad dengan meningkatkan kualitas alumni Pesantren-pesantren Perhimpunan Al-Irsyad  dalam penguasaan ilmu Al-Qur'an dan Al-Hadits menurut peringkat sekolahnya masing-masing,

c-    Peningkatan peran organisasi keumatan seperti lembaga –lembaga atau  organisasi Mahasiswa dan Pelajar ( intra maupun ekstra) serta penye-lenggaraan Majelis-majelis ta'lim yang kian menjamur di tengah masyarakat. Selain itu, penelusuran warisan sejarah umat Islam di tanah air perlu pula dilakukan. Dalam hal ini penelitian terhadap peristiwa-peristiwa sejarah dan pelaku-nya, hendaknya dikerjakan secara teratur dan terrencana, melalui suatu lembaga penelitian atau kajian sejarah umat Islam.

d-    Intensifikasi dakwah dengan sasaran utamanya di daerah-daerah rawan keimanan, karena tekanan ekonomi dan keterbelakangan pendi-dikan.

e-    Mengadakan dan memanfaatkan media massa untuk memperluas syiar Islam dan peran perhim-punan.

 

3. PENGEMBANGAN USAHA SOSIAL EKONOMI UMAT

Pembinaan usaha ekonomi dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan anggota sebagai ikhtiar penggalian dana Perhimpunan secara profesional dan peningkatan pember-dayaan masyarakat. Untuk itu, penganekara-gaman usaha ekonomi perlu dirintis dan ditingkatkan melalui: Program-program kewira-swastaan, usaha pertanian, peternakan, industri rumah tangga, koperasi, jasa. Demikian juga Proyek-proyek usaha ekonomi perlu dirintis yakni BPR Syariah dan pembentukan BMT-BMT (Baitul Mal Wa Tamwil) pada setiap Cabang. Disamping itu, perhimpunan perlu senantiasa mencermati berbagai kecenderungan kehidupan masyarakat nasional dan internasional sehingga dapat mengantisipasi kecenderungan sosial budaya yang negatif lebih dini. Upaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera lahir batin, pembinaan akhlak karimah, budaya dan keluarga yang sakinah harus terus ditingkatkan.

Melaksanakan dan mengupayakan peningkatan amaliah dan kepekaan sosial serta aktualisasi potensi anggota dan masyarakat dengan kegia-tannyata, seperti penanggulangan korban bencana alam, bantuan kepada anak Yatim Piatu, biaya pendidikan untuk anggota dan warga masyarakat tidak mampu dan kegiatan sosial lainnya.

4. PENGEMBANGAN ORGANISASI DAN  

     KADERISASI

a.    Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, perhimpunan harus selalu disusun dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga terkonsolidasi dan dapat berfungsi serta berperan untuk mencapai tujuan perhim-punan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar.

b-    Untuk mencapai konsolidasi organisasi yang efektif haruslah terus diusahakan pelaksanaan silaturrahmi (komunikasi) dengan berpegang teguh pada ukhuwah Islamiyyah dan nasihat-menasihati dalam yang hak, baik secara struk-tural maupun fungsional dalam lingkungan perhimpunan, melalui pemantapan dan pening-katan peran segenap aparat.

c-    Pola hubungan antara badan /lembaga yang menggunakan atribut Perhimpunan dengan Pimpinan Perhimpunan Al-Irsyad, haruslah dirumuskan secara tepat dan jelas, sehingga kewibawaan pimpinan perhimpunan dan kesatuan kepemimpinan, makin terpelihara dengan baik.

d-    Mengintensifkan pendidikan manajemen organi-sasi dan kajian terhadap aktivitas organisasi serta melakukan penelitian dan pengembangan.

e-    Dalam upaya  tertib berorganisasi, maka terus dilakukan tertib administrasi dan penyusunan Pedoman Administrasi Kesekretariatan.

f-     Meningkatkan kerjasama dengan pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, baik yang berskala nasional maupun intenasional untuk kemasla-hatan umat.

g-    Peningkatan kualitas SDM dalam rangka mengoptimalisasi fungsi organisasi dan menyiap-kan suksesi kepemimpman pada setiap peringkat perhimpunan, dilakukan melalui kaderisasi secara terprogram, sistimatis terarah dan berke-lanjutan.

h-   Pembinaan kader secara terstruktur dan berjenjang dilaksanakan secara desentralisasi dengan membentuk pusat pendidikan atau kader di daerah-daerah yang ditunjuk oleh Dewan Pimpman Pusat.

i-     Pelaksanaan kurikulum pengkaderan yang berjenjang

 


 

BAB V

KHATIMAH

 

Garis-Peran Perhimpunan Al-Irsyad menunjukkan niat dari perhimpunan untuk menata masa depannya yang lebih baik. Masa depan adalah perubahan waktu yang tetap  berlangusng sesuai  ketentuan sunatullah.  Dengan begitu, perhimpunan menyong-song masa depan dengan perubahan yang diren-canakan.

"Wahai orang-orang vang beriman berlaqwalah kamu kcpada Allah, dan haruslah masing-masing kamu  tclah mempersiapkan apa yang kamu kerja-kan untuk esok hari. Bcrtaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q.S. 59:18)

"Allah sangat membenci orang-orang yang menga-takan sesuatu tetapi mereka tidak mengerjakannya" (Q.S. 61:3)

Oleh karena itu, tanggungjawab atas keberhasilan pelaksanaan program-program pengembangan perhimpunan terletak pada partisipasi pimpinan dan anggota, kerja sama antara pimpinan, kedisiplinan, kesungguhan kita dalam mewujudkan hajat bersama  serta rasa tanggungjawab terhadap amanah.

Dengan demikian tiada daya dan upaya yang lebih tangguh, kecuali merupakan karuniaNYA. Akhirnya kita berikhtiar dan bertawakkal kepadaNYa.

 


 

REKOMENDASI

 MUKTAMAR 2009 PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

 

Bismillahirrahmanirrahim


LATAR BELAKANG

Perhimpunan Al-Irsyad sebagai organisasi kema-syarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial, menjadikan Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai tuntunan bagi anggotanya.

Menyadari rasa tanggungjawabnya sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, maka Perhim-punan Al-Irsyad, selelah mengikuti dan membahas perkembangan situasi di bidang agama, pendidikan, dakwah, sosial budaya, ekonomi, politik, hukum, pertahanan dan keamanan negara serta masalah internasional, melalui Muktamar 2009 di Jakarta tanggal 23 – 25 Maret 2009 dengan ikhlas dan tawakkal kepada Allah SWT menyampaikan bebe-rapa rekomendasi sebagai berikut ini :

A.   REKOMENDASI  EKSTERNAL

I.              A G A M A

Sebagai upaya membina kerukunan hidup umat beragama sesuai dengan falsafah Pancasila, khususnya sila pertama. Pemeritah telah menetapkan norma-norma dan keten-tuan pera-turan, berkaitan dengan hubungan antar ummat beragama dan antar ummat beragama dengan pemerintah. Ikhtiar ini dimaksudkan untuk  mem-bangun suatu kehidupan yang harmonis dalam bermasya-rakat, berbangsa dan bernegara.

Semua pihak wajib menghormati dan menaatinya, guna  terwujud persatuan dan kesatuan nasional yang lebih kokoh dan bermoral atas dasar keimanan dan ketaq-waan kepada Allah SWT.Karena itu,  Pemerintah hendaknya mengambil tindakan tegas terhadap setiap upaya yang jelas-jelas menyimpang dan melecehkan norma dan ketentuan agama, baik dalam hubungan antar agama maupun internal agama yang bersangkutan.

Sehubungan dengan itu hendaknya Peme-rintah cq Departemen Agama dan atau instansi/lembaga berwewenang yang terkait mengambil sikap dan tindakan tegas :

a.    Terhadap pihak tertentu yang masih melakukan penyiaran agama terhadap pemeluk agama lain yang bisa mengun-dang reaksi bersifat SARA.

b.    Melarang aliran-aliran yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits Nabi s.a.w di seluruh wilayah hukum Indonesia dan juga seluruh kegiatannya dalam bentuk apapun, baik  berbentuk kegiatan ritual, penerbitan, publikasi dll. karena dalam jangka panjang dikuatirkan akan menimbulkan pertentangan di kalangan umat Islam Indonesia sebagai penganut faham Ahlussunnah wal jama'ah. Perhimpunan Al-Irsyad juga mendukung SKB tiga Menteri dan meminta pemerintah  konsisten dan konsekuen  dalam pelaksa-naan SKB tersebut.

c.    Bawa dalam pelaksanaan ibadah haji pada beberapa tahun terahkhir ini terdapat kecenderungan pelayanan yang kurang antisipatif dalam penyelenggaraan haji. Pemerintah segera menciptakan Konsep Penyelenggaraan Haji yang menyeluruh dan terpadu, mudah dan murah, tanpa mengurangi kekhidmatan dan kekhu-syukan beribadah. Untuk itu, hendaknya Pemerintah mengkoordinasikan pihak-pihak yang terkait secara lebih intensif disertai pengawasan ketat, serta mengam-bil tindakan tegas terhadap upaya-upaya yang akan merusak integritas penyeleng-garaan haji.

d.    Pemerintah hendaknya tidak tergesa-gesa memutuskan rancangan undang-undang nikah sirri sebelum adanya fatwa yang disepakati bersama.

II.            PENDIDIKAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dengan berbagai konse-kuensinya menuntut antisipasi secara cermat dengan berbagai penyesuaian penyesuaian, baik program, materi, sarana dan prasarana pendidikan  guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan  bermutu tinggi.  Sistem pendidikan yang mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas, imtaq (iman taqwa), profesional, responsif terhadap tuntutan-tuntutan perubahan yang dikelola secara terpadu dan berkesinambungan, dengan mengimplementaskan pendidikan kecakapan hidup dalam setiap kurikulumnya.

Oleh karena, itu terkait dengan penggunaan dana pendidikan yang telah ditetapkan di dalam APBN sebesar  20 % dapat dugunakan seoptimal mungkin. Pemerintah juga perlu mendorong bahkan memberi sanksi kepada pemerintah daerah yang belum mau menganggarkan 20 %  Anggaran Pendidikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada setiap tahunnya. Sebab, Rendahnya derajat dan martabat suatu masyarakat bangsa sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan, namun kenyataan menun-jukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum memperoleh kesempatan me-madai untuk menjangkau iptek yang canggih, guna memperoleh nilai tambah dalam meningkatkan kualitas hidupnya.Oleh karena itu, perlu diupayakan pemerataan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi terutama dalam penguasaan ilmu dan teknologi terapan yang berwawasan lingkungan. Pemerintah juga memberi porsi yang sama kepada sekolah negeri  dan swasta khususnya lembaga  pendidikan Islam. Ciri khas Pendidikan yang dikelola oleh masyarakat hendaknya ditumbuh kembang-kan oleh Pemerintah dan tidak terhalangi dengan alasan-alasan administrative, sehing-ga kekhasaannya  tetap terjaga dan diperta-hankan.

III.           D A K W A H

Terciptanya kondisi masyarakat yang stabil, tertib dan tentram merupakan hasil pembi-naan unsur-unsur pemerintah dan masya-rakat, termasuk kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para guru, ulama, khotib, muballigh, da'i dan sebagainya. Tanggapan terhadap kegiatan dakwah dan gairah masyarakat untuk mendalami agama perlu diberikan pemahaman yang benar berda-sarkan pemahaman salafusshaleh oleh para da'i yang berkualitas dan profesional guna mencegah terjadinya salah pengertian dalam penerapannya.

Pemerintah perlu meningkatkan dukungan terhadap kegiatan dakwah berupa subsidi Da’i dan fasilitas dakwah serta iklim yang menunjang kegiatan dakwah, mengingat peranan dakwah sebagai media komunikasi, informasi dan pendidikan cukup  efektif bagi masyarakat. Untuk itu, pelaku dakwah hen-daknya diberi peran yang signifikan dalam pelaksanaan pembangunan di bidang pembangunan moral bangsa.

IV.          SOSIAL BUDAYA

Perhimpunan Al-Irsyad merasa prihatin ter-hadap meningkatnya kecenderungan dalam masyarakat berupa perilaku  menyimpang dari norma-norma Islam dan nilai sosial budaya bangsa, mengabaikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, kejujuran, keadilan, seperti premanisme dalam segala bentuknya, tindakan-tindakan kekerasan, pelecehan seks dan perilaku tak terpuji lainnya yang mere-sahkan masyarakat. Kondisi demikian tidak bisa dipisahkan dari dampak kondisi ekonomi serta dampak global kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.

Berkenaan dengan hal tersebut, Pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat, perlu segera mengambil langkah tepat untuk men-cegah kian merebaknya, produk budaya yang tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Para pengelola media massa, baik media massa cetak, elektronik, internet dll,  diharuskan lebih arif dan jeli dalam memilih dan mempertimbangkan materi yang akan disajikan kepada publik.

Perhimpunan Al-lrsyad dengan rasa syukur kepada Allah SWT sangat menghargai sikap Pemerintah R.I. dan DPR –RI yang telah mensahkan Undang-Undang Pornografi. Penetrapan UU ini diharapkan mampu memperbaiki moral dan keimanan bangsa Indonesia. Dengan demikian, perlu ketegasan pemerintah dalam pemberian  sanski kepada para pihak  yang melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap undang-undang tersebut, dan mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat. Perhimpunan juga meminta kepada mahkamah konstitusi untuk menolak segala gugatan dari LSM, Ormas, Partai Politik dan perorangan yang manga-jukan uji materil terhadap undang-undang tersebut.

Keluarga Besar Perhimpunan Al-Irsyad juga mennyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada DR. H. Muhammad Natsir dan  beberapa toloh lannya,  yang telah memberikan pengorbanan dan dharma bhaktinya bagi perjuangan bangsa Indonesia. Namun mengingat berbagai pertimbangan dan kondisi objektif belum semua tokoh/pejuang Islam yang berhak menyandang gelar kehormatan tersebut, memperoleh anugerah penghargaan itu.

Jauh dari maksud riya dan sikap takabbur, Muktamar 2009 Perhimpunan Al-Irsyad merasa perlu mengusulkan, kiranya pada kesempatan yang tepat Pemerintah dapat mengangkat dan menganugerahi gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Syeikh Ahmad Soorkati,   yang tidak lain adalah seorang pejuang dan pembaharu yang ikut aktif berjuang dalam rangka kemerdekaan R.I.

V.           H U K U M

Tegaknya hukum dan keadilan merupakan prasyarat bagi terwujudnya kehidupan masyarakat madani (masyarakat yang tertib, aman, tentram dan nyaman). Maraknya praktik-praktik korupsi dan penyelewengan menunjukkan lemahnya kesadaran para pengabdi negara dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab selaku  penyelenggara negara. Oleh karena itu, sebagai negara berdasarkan hukum, hendaknya lembaga  penegak hukum tidak  tebang pilih dalam pemberantasan korupsi. Para penegak hukum senantiasa konsekuen dan konsisten dalam menerapkan peraturan perundang-undangan, tidak diskriminatif, menghormati Hak Asasi Manusia (HAM) berdasar prinsip setiap warga Negara Indonesia  berkedudukan sama  di depan  hukum. Terutama dalam pemberan-tasan Korupsi, Perjudian dan kasus kriminal lainnya, sehingga rasa keadilan masyarakat dapat terpenuhi. Selanjutnya dalam menyu-sun sistim  hukum nasional, hendaknya Lembaga pembuat UU  memperhatikan hukum Islam sebagai salah satu sumber hukum positif di Indonesia, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam.

Dalam menghadapi penyebaran minuman keras (MIRAS), psikotropica (ecstasi dan lain-lainnya) dan segala bentuk perjudian, Perhimpunan Al-Irsyad meminta kepada pemerintah untuk menutup pabrik MIRAS tersebut, serta bertindak tegas dengan membuat dan memberlakukan peraturan perundang-undangan tentang pemberan-tasannya disertai sanksi yang seberat-beratnya bagi para pelanggar, sebab akibat yang ditimbulkan oleh miras dan psikotropica tersebut sangat buruk terhadap keberlang-sungan kehidupan bangsa.

VI.          POLITIK

Pembangunan di bidang politik pasca reformasi  tampaknya masih jauh dari  harapan. Sesunggunya pesan reformasi  cukuplah jelas yakni adanya perubahan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara (Islah dan tajdid-perubahan dan perbaikan ). Proses menuju suatu kehidupan  bangsa dan negara Indonesia  yang demokratis dan sejahtera merupakan  cita-cita nasional bangsa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran berbagai  komponen  bangsa mewujudkan suatu kehidupan bersama yang lebih baik, demokratis dan sejahtera. Namun demikian dalam pandangan Perhimpunan faktor moral dan ahlak  politik, masih tera-baikan dalam proses-proses politik pasca  reformasi. Ke depan perlu  lebih ditingkatkan  ahlak politik yang lebih beradab.  

Fakta menunjukkan pelaksanaan otonomi  daerah, yang bertujuan meningkatkan pela-yanan dan kesejahteraan masyarakat, tampaknya masih jauh dari harapan, maka perlu dilakukan kaji ulang pelaksanaan otonomi daerah yang lebih berkualitas untuk tidak memutuskan mata rantai dengan peme-rintahan pusat. Selain itu,  dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA), terdapat  berbagai hal yang kurang menun-dukung ikhtiar  negara bangsa  dalam mewujudkan kehidupan yang lebih demo-kratis. Adanya kecurangan, politik uang, konflik dan kekerasa akibat  ketidak puasan kepada penyelenggara (KPU/KPUD) , Peradilan yang dinilai belum mewujudkan keadilan, adanya intervensi pemerintah dalam pelaksnaan Pilkada, masih  sering  menge-muka. Hal ini  tentu saja  akan mengganggu  proses demokratisasi dan penegakan hukum. Dengan kata lain,   Pemilihan Presiden dan pemilihan Kepala Daerah( Gubernur, Bupati  dan Walikota) secara langsung sebagai wujud pengembalian hak-hak politik kepada pemilik daulat (rakyat), masih terganjal dengan berbagai  faktor.  Oleh karena itu, dalam melaksanakan pemilihan umum secara langsung khususnya Pilkada pada saat mendatang perlu dikaji kembali peraturan perundagan yang ada, guna menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat, sehingga pilkada mampu merefleksikan hak –hak politik rakyat dalam berdemokrasi. Demikian juga, moral  dan ahlak politik, perlu  menjadi   per-hatian secara cukup  berarti oleh para pelaku politik. Berkenaan dengan itu para penye-lenggara pemilu dan Organisasi Peserta Pemilu wajib menciptaan kondisi yang kondusif guna terciptanya pelaksanaan pemilu  langsung, umum, bebas, rahasia dan demokratis yang didasari  kejujuran dan keadilan.

Semua warga negara yang memiliki hak  pilih  dalam pemilu mendatang,  hendaknya meng-gunakan momentum pesta demokrasi ter-sebut sebaik-baiknya. Kepada seluruh warga Perhimpunan Al-Irsyad diserukan untuk melaksanakan hak pilihnya secara bertang-gungjawab, sesuai tuntutan hati  nurani  melalui organisasi sosial politik peserta pemilu yang memperjuangkan aspirasi umat Islam, bagi kemajuan bangsa  Indonesia. Perhim-punan Al-Irsyad senantiasa  berpartisipasi   pada pelaksanaan pemilu dan pilkada dengan cara  mendorong  kadersnya mencalonkan atau  dicalonkan dalam Pemilu legislatif maupun pilkada   mendatang

VII.         HANKAMNAS

Wilayah negara Repbulik Indonesia yang strategis dan luas, memiliki sumber daya alam yang potensial serta jumlah penduduk yang besar, sehingga memerlukan sistem penga-manan yang mampu menangkal segala bentuk ancaman, baik yang datang dari dalam maupun dari luar termasuk bahaya laten komunisme. Oleh karena itu, implementasi sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata) dengan TNI sebagai kekuatan inti, perlu dimasyarakatkan secara lebih intensif sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak dan kewa-jiban bela negara. Selain itu  pemrintah  perlu merumuskan undang-undang perba-tasan, sehingga ke depan tidak lagi menimbulkan masalah perbatasan seperti  yang terjadi di Ambalat dan pulau Ligitan di Kalimantan, juga kebijakan lain untuk mencegah terjadinya dis integrasi bangsa dengan menindak tegas kelompok-kelompok separatis yang berpo-tensi memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

VIII.       INTERNASIONAL

Peran politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif telah menunjukkan kredibilitas dan integritas yang semakin tinggi dan diperhi-tungkan dalam percaturan Internasional. Oleh karena itu, Pemerintah R.I. perlu menindak-lanjuti dengan peran yang lebih intensif tehadap  hak-hak hidup  masyarakat minoritas  muslim di Burma dan tempat-tempat lain, sebagaimana Indonesia telah tampil dengan gemilang dalam membantu penyelesaian konflik di Bosnia, Kamboja dan Philipina Selatan.

Perhimpunan Al-Irsyad mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka dan berdaulat dan mendukung sikap tegas Pemerintah R.I. terhadap Zionis Israel untuk tidak membuka hubungan apa pun dengan Zionis tersebut, serta untuk mengingatkan kepada Pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya agar tidak bersikap hipokrit (standar ganda).

Kepada masyarakat dunia dihimbau agar memberikan perlakuan secara wajar dan rnanusiawi kepada kaum muslimin dengan menghargai hak-hak asasi Muslimin di mana pun serta memberikan dukungan atas semua perjuangan kaum muslimin diseluruh dunia.

Negara-negara Islam,  khususnya yang terga-bung di dalam Organisasi  Konferensi Islam (OKI)  hendaknya terus meningkatkan ukhuwah Islamiyyah dalam rangka turut serta  menciptakan dunia yang bebas dari kekera-san, perang dan konflik.  Guna mewujudkan tatanan dunia yang  damai, sejahtera, adil dan beradab.

IX.          EKONOMI

Produk-produk ekonomi kapitalis seperti monopoli ekonomi dan prektik-prektik riba telah melahirkan krisis ekonomi global mesti diatasi dengan sistem ekonomi syari’ah.

B.   REKOMENDASI  INTERNAL

  1. Muktamar merekomendasikan agar ke depan perhimpuna Al-Irsyad dijadikan organisasi kader, dakwah dan sosial, juga tidak lagi menyibukkan dengan kegiatan formal.
  2. Menyikapi adanya Undang-Undang tentang Yayasan, Perhimpunan Al-Irsyad dapat memahami aka adanya perubahan terhadap anggaran dasar yayasan. Namun perhim-punan mengharapkan agar yayasan-yayasan tetap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan warga Al-Irsyad. Oleh karena itu, diharapkan seluruh yayasan-yayasan Al-Irsyad memben-tuk forum kerjasama yayasan. DPP perhim-punan Al-Irsyad, apabila diperlukan dapat memfasilitasi terbentuknya forum tersebut.
  3. Menyerahkan kegiatan-kegiatan formal dalam pendidikan dan amal usaha lain di daerah-daerah untuk dikelola dan dilaksanakan oleh yayasan-yayasan di daerah secara maksimal.
  4. Membentuk wadah formal wanita Perhim-punan Al-Irsyad di semua jenjang kepengu-rusan.

PENUTUP

Demikian rekomendasi ini disampaikan sembari mengharap bimbingan dan ridha Allah SWT,  Semoga rekomendasi ini dapat menjadi  bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan-kebijakan diberbagai  bidang pembangunan bangsa dan negara.

 



Susunan Pengurus

DPP Perhimpunan Al-Irsyad

Periode 1430 – 1435/2009 – 2014



Ketua Umum                                                             : Yusuf Utsman Baisa

Wakil Ketua Umum                                                  : Husin Maskati

Ketua Majelis Dakwah & Fatwa                             : Ali Saman Hasan

Ketua Majelis Pendidikan & Pengajaran             : Abdurrahim Al Basyir

Ketua Majelis Organisasi dan Pengaderan        : Farhat Umar

Ketua Majelis Wakaf dan Yayasan                       : Hafid Thalib

Ketua Majelis Sosial dan Ekonomi                       : Nasser Ja'far S.

Ketua Majelis Hubungan Luar Negeri                 : Ishom Sungkar

Sekretaris Jenderal                                                  : Ali Said Bamajbur

Wakil Sekretaris                                                        : 1. M. Suja'i Anhar

                                                                                       2. Diding Sobarudin

Bendahara                                                                 : Ferhad Basandid

Wakil Bendahara                                                      : Ismail Bawazir

 

 

Susunan Pengurus Majlis Syuro

Priode 1430 – 1435/2009 – 2014

 

1.  Faisol Baasir  

2.  Cholid Aboud Bawazeer       

3.  Ahmad Banawir                    

4.  Dr. Basyir Achmad                 

5.  Husein Ali Afif

6.  H. Yahya Huraibi

7.  Shobri Achmad Syawi

8.  Kholid Abdullah Seff

9.  Amin Rajab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       
 
 
 
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       
 
 
 
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Pengunjung

Assalaamu'alaikum

Silahkan Masukan User Name dan Password Anda

Terima Kasih atas Kunjungan Anda ke Website Kami